Ketika ingin menangis, sudah kering air matamu.
Ketika ingin berteriak, telah hampir putus pita suaramu.
Ketika ingin mengadu, telah habis kata-katamu.
Oh… Gaza nasibmu kini…
Bom dan senjata api belum juga usai, kini ditambah lagi penderitaan rakyat Gaza. Kelaparan yang tersistematis. Pelaparan yang disengaja oleh Zi0nis yang biadab dan sekutunya. Mereka memblokade semua jalur. Sehingga bantuan tidak bisa masuk sama sekali ke Gaza. Alasan mereka sungguh bagai anak kecil yang tidak mau kalah rebutan mainan.
Tidak ingin bantuan makanan itu jatuh ke tangan H4m4s. Alasan yang sungguh sangat menjijikkan, sekaligus membuka mata kita. Bahwa sesungguhnya mereka telah kalah telak melawan pejuang Gaza.
Mereka sudah berjuang mati-matian untuk menguasai Gaza, namun semua itu gagal total. Zionis dan sekutunya telah kehilangan akal.
Pengeboman dan genocide masih berlanjut di Gaza. Orang mencari makan pun harus bertaruh nyawa. Harga-harga pangan sungguh diluar nalar, karena ketidak sediaan bahan makanan. Air bersih dan obat-obatan , jangan ditanya lagi. Semua serba terbatas dan hampir tidak ada. Hampir setiap hari ada warga yang meninggal dunia karena mal nutrisi.
Lantas kemana perginya negeri-negeri Islam lainnya? Terutama yang jaraknya dekat sekali dengan Gaza? Mereka asik bermesraan dengan zionis dan As. Mereka takut kekuasaan mereka hilang kalau sampai membela rakyat Gaza. Dunia yang tidak seberapa ini telah melalaikan mereka.
Dengan dalih ketakutan konflik akan melebar dan negeri mereka ikut habis juga. Sungguh pengkhianatan bagi kaum muslim di Gaza. Negeri-negeri kaum muslim telah kehilangan taringnya. Mereka tunduk pada As dan zionis. Marwah umat muslim sungguh telah sirna.
Kalau kita mau kilas balik pada jaman ketika Baitul Maqdis dibebaskan pertama kali oleh Khalifah Umar ibn Khatab. Bagaimana kondisi umat saat itu? Apakah kala itu umat Islam sedang tercerai berai, ataukah kala itu umat Islam sedang difase sangat lemah?
Umat Islam sedang dimasa keemasan kala itu. Semua bersatu dalam naungan satu kekhilafahan Umar Ibn Khatab. Berada dalam satu komando. Tidak ada yang takut akan kalimat jihad, dan kemenangan Islam.
Dan yang terlebih penting yang kaum muslimin miliki pada saat itu adalah, keyakinan dan keimanan yang tinggi pada Allah. Umat begitu percaya pada janji-janji Rasulnya.
Sekarang kita tilik bagaimana dengan umat saat ini, umat bagaikan kehilangan arah dan pegangan. Umat muslim terpecah belah oleh nasionalisme dan bendera masing-masing. Belum lagi propaganda barat yang selalu gencar menggoreng isu sunny-syiah sebagai pemicu perpecahan kaum muslim. Yang mana keuntungan itu mereka yang akan meraihnya. Dan umat muslim semakin terpuruk dan terombang ambing bagai buih dilautan.
Gaza adalah contoh nyata betapa tidak pedulinya kaum muslimin pada saudaranya. Padahal kaum muslim itu jika diibaratkan, seperti satu tubuh. Ketika salah satu tangan kita yang terluka sebadan badan akan merasakan sakitnya. Namun sekarang rasa itu telah punah, dikikis oleh kecintaan pada dunia. SubhanaAllah!
Umat yang telah terombang ambing ini bisa apa dengan kondisi Gaza. Yang notabene bantuan kemanusiaan pun tidak bisa masuk. Hanya bisa menoton dengan hati teriris.
Negara Mesir pun menutup rapat perbatasan, dengan menempatkan para tentara-tentara disana. Menghadang bantuan supaya bantuan kemanusiaan tidak masuk ke Gaza. Lantas siapa yang berlutut dan memohon supaya bantuan diizinkan masuk?
Notabene mereka adalah non muslim, entah apa agamanya. Memohon kepada tentara yang adalah seorang muslim. Namun masih pantaskah mereka kita sebut muslim, ketika mereka membiarkan saudaranya mati kelaparan dengan kondisi menyedihkan.
Pembebasan Gaza adalah tentang jihad dan persatuan umat dibawah satu komando. Tidak lain dan tidak bukan, karena ketika umat Islam masih terpecah belah maka kemerdekaan Palestina hanya isapan jempol belaka.
Waullahualam Bishawab.